Kamis, 21 Februari 2013

3twins (part 9)


Sembilan…

Nicky, Ricky dan Vicky bersamaan keluar dari mobil. Mereka menyambut kedatangan mobil yang membawa Juna, Reki, Bayu serta Rio. Nicky yang sangat tidak sabar membukakan pintu belakang, Bayu yang terlebih dahulu keluar dan mmebiarkan Nicky menarik paksa Rio keluar dari dalam mobil.
        Nicky mendorong tubuh Rio yang sebenarnya sudah sedikit limbung ke arah Ricky dan Vicky yang sigap menangkap tubuh Rio. Tanpa basa basi, Nicky menghadiahi sebuah pukulan tepat di wajah Rio. “Itu hadiah karena tadi gue belom sempet ngehajar lo.”
        Tubuh Rio masih ditahan Ricky dan Nicky. Namun ia tetap menunjukkan senyum merendahkan untuk Nicky. “Kenapa gak dari tadi lo lakuin ini pas ada Najwa?” Tantangnya. “Gue tau lo ke toilet Cuma alibi di depan Najwa aja, kan? Ketika Najwa gak ada di sini, baru lo berani ngelawan gue.”
        “Ada atau tanpa Najwa, gak ada bedanya.”
        Semua menoleh ke arah sumber suara. Riyu.
        Rio langsung menatap sinis dua orang yang berjalan sedikit dibelakang Riyu. Dylan dan Aloy.
        “Kalian ngapain di sini?” tanya Rio jelas tertuju ke Dylan dan Aloy.
        “Bukan urusan lo.” Aloy yang menjawab diiringi senyuman Dylan.
        “Udah deh, gak usah ngalihin pembicaraan.” Riyu melangkah perlahan ke hadapan Rio. “Lagian, harusnya tuh lo bersyukur Nicky gak ngehajar lo di depan Najwa. Lo sendiri aja kalah sama Najwa.”
        Jelas terdengar tawa tertahan orang-orang yang mengelilingi Rio.
        Tak lama terdengar suara tawa Dylan yang pecah. “Udah donk, Ri. Jangan bikin gue sakit perut.” Pinta Dylan sambil memegangi perutnya.
        Riyu tersenyum penuh kemenangan di hadapan Rio. “Lo udah bikin Najwa dikeluarin dari Priority, apa itu masih kurang? Hah…!” bentaknya tepat di depan wajah Rio.
        “Dikeluarin?” Nicky mewakili kebingungan di mata teman-teman yang tak mengetahui penyebab pasti Najwa pindah ke SMA Deportivo.
        “Bukan gue penyebab dikeluarinnya Najwa dari Priority.” Rio membela diri.
        “Ya apalah. Terserah lo.” Riyu jelas tak ingin mendengar alasan atau pembelaan apapun dari Rio.
        “Terus, enaknya diapain nih orang?” celetuk Reki yang membuat Riyu menoleh ke arahnya. “Gue udah ngantuk.” Melalui ekspresi wajah, Reki sebisa mungkin meyakinkan Riyu bahwa ia sungguh telah mengantuk.

@@@

        Najwa memarkirkan mobil yang dikendarainya.
        Wajah Nissa berubah panic menatap sekeliling. “Lo ngapain bawa kita ke apartmennya Nicky? Ntar tuh orang marah sama gue.”
        Najwa menatap cewek di sebelahnya. “Gue tau, kakak yang udah ngerjain motor gue sampe masuk bengkel. Tapi kakak gak mikirin perasaan gue, kan?”
        Tanpa menunggu Nissa merespon ucapannya, Najwa langsung keluar dari mobil. Dikejauhan, ia melihat kerumunan orang berjalan masuk menuju lobi. Meski samar, tapi jelas terlihat siapa-siapa saja mereka itu.
        Rio sengaja dibiarkan berjalan seolah tanpa pengawasan, tapi ia diposisikan tepat ditengah-tengah kerumunan. Jadi, kalo saja Rio tiba-tiba kabur, pergerakannya tidak terlalu luas karena di kelilingi beberpa orang.
       
@@@

        Ada yang mengetuk pintu apartmen. Nicky yang berinisiatif membukakan pintu. Betapa terkejutnya Nicky ketika mendapati Najwa berdiri dihadapannya. Nicky melirik Nissa yang berdiri sedikit dibelakang Najwa dengan raut wajah yang sedikit merasa bersalah. Najwa yang menyadari kekhawatiran Nissa pun ikut menoleh ke arah cewek dibelakangnya.
        “Kak Nissa gak salah.” Ujar Najwa membela, kemudian kembali menoleh ke Nicky. “Gue yang maksa dia untuk ikut kesini.”
        Nicky menyuruh Najwa dan Nissa untuk masuk dengan menggunakan isyarat. Ia sedikit bergeser dari posisinya berdiri sekarang yang seolah memberi jalan. Setelah dua cewek ini masuk, Nicky menutup pintu dibelakangnya.
        Melihat kedatangan Najwa, Rio langsung berdiri. Sontak, Nicky yang masih berdiri di depan pintu langsung berdiri sigap mencegah tragedy Rio kabur.
        “Lo ke sini buat nolongin gue kan, Na?” Tanya Rio penuh harapan.
        Najwa justru menatap cowok itu penuh antipati. “Maksud lo apa tadi mau nyulik gue?”
        Rio hampir saja mendekati Najwa kalau saja tak buru-buru di hadang Reki dan Aloy yang kala itu disampingnya. Masing-masing disebelah kanan dan kiri. Ricky sendiri langsung memposisikan diri di depan Najwa, seolah ia akan melindungi cewek dibelakangnya itu.
        “Jangan pernah berani nyentuh Najwa.” Ancam Ricky dengan tatapan serius ke Rio.
Nicky tertegun melihat perlakuan Ricky terhadap Najwa. Harusnya gue yang ada di posisi Ricky, pikirnya. Ia merasa kalah.
Nissa menatap Nicky penuh kengerian ketika cowok itu mengepalkan tangannya. Kemudian ia melirik Vicky yang justru bersandar di ambang pintu dekat dapur sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Sama sekali tak ada yang harus dikhawatirkan oleh cowok itu.
        Reki mendorong tubuh Rio hingga cowok itu kembali duduk di sofa. Ia dan Aloy pun ikut kembali duduk dan masih dengan ketat menjaga pergerakan Rio.
        “Gue udah muak sama ancaman lo melalui sms itu.” Ujar Vicky memecah keheningan.
        “Ancaman apa?” Rio balik bertanya.
        “Udah deh. Gak usah sok polos. Kita tau lo yang ngelakuin itu. Gak mungkin Kelvin, karena gue udah mastiin semua.”
        Rio benar-benar tersudutkan. Tak ada yang dapat membelanya. Diliriknya Najwa yang terlihat biasa saja. Keadaan seperti ini pun sebisa mungkin dimanfaatkannya. “Tapi Najwa sendiri gak ngerasa terancam.”
        Hampir semua mata menoleh ke Najwa. Kecuali Nicky, Ricky, Vicky dan Nissa.
        “Mungkin beberapa dari kalian ada yang bertanya-tanya, kenapa Najwa tukeran nomor sama gue?” beberapa dari mereka memang membenarkan pertanyaan Ricky. Termasuk Najwa. Kemudian cowok itu mengeluarkan ponselnya. “Beruntung sms itu masuk sebelum gue sempet balikin nomor Najwa.” Ricky bercerita sambil sedikit memainkan ponselnya. Lalu ia menyodorkan benda itu ke Riyu dengan sebelumnya dioper melalui Dylan.
        Riyu yang membaca semua sms yang berisi ancaman untuk Najwa itu hanya menanggapinya dengan senyum pahit. “Nyali lo Cuma sampe lewat sms doank?” Riyu menatap Rio sambil menunjukkan ponsel Ricky diiringi dengan tatapan merendahkan.
        “Kak Ricky, sms apaan sih?” Tanya Najwa akhirnya yang sudah tak bisa lagi menahan rasa penasarannya.
        Ricky pun akhirnya menceritakan semua tentang ancaman-ancaman melalui sms tersebut.
        ‘Ternyata ada yang mau bikin nama gue jelek dihadapan Najwa. Gak bisa dibiarin.’ Ujar Rio dalam hati yang merasa tak terima dengan perbuatan oknum yang mengatas namakan dirinya.

@@@

        Dua hari berlalu sejak kejadian itu. Atas permintaan Najwa, Rio pun bisa bebas. Istirahat jam pertama pun berdentang. Najwa langsung membuka ponselnya karena tadi ia sempat merasakan sebuah sms masuk.
       
        Istirahat pertama temuin gue di kantin belakang.

        Itu sms dari Nicky. Di saat yang bersamaan, Ivo dan Rhea mendekatinya.
        “Kantin yuk, Na.” ajak Rhea.
        Najwa melirik Inka yang tengah merapikan alat tulisnya. Kemudian kembali menatap Ivo dan Rhea bergantian. “Kalian duluan aja ya. Gue mau ke toilet dulu.”
        “Ya udah deh.” Ivo yang menjawab. “Kita duluan, yuk In.” Ivo menyodorkan tangannya tanda ia mengajak Inka pergi bersama.
        Begitu Inka, Ivo dan Rhea pergi, Najwa cepat-cepat membereskan peralatan sekolahnya. Najwa tak menyadari ketika Inka melewati depan kelas, cewek itu sempat menatapnya kembali melalui jendela.
       
@@@

        Ketika melintasi ruang guru, Inka, Ivo dan Rhea berpapasan dengan Nicky yang hendak masuk ke dalam ruangan.
        “Mau kemana, kak?” Ivo memberanikan diri untuk bertanya.
        Nicky pun menoleh. Ia menunjukkan selembar kertas dan sebuah bolpoin ditangannya. “Ini, gue ada utang ulangan pas kemaren gak masuk. Kalian bertiga mau kemana? Kok Najwa gak ikut?”
        “Mau ke kantin, dan kebetulan Najwa lagi ijin ke toilet dulu.” Gantian Rhea yang menjawab.
        “Yaudah, gue duluan.” Ujar Nicky sambil bergegas masuk.
        Tiga cewek ini pun melanjutkan perjalanan.
        “Kalian ngerasain perubahan dari kak Nicky gak sih? Sejak kenal sama Najwa, dia jadi lebih ramah. Terutama ke kita.”
        “Kalian juga jadi lebih akrab ya?” Inka yang nyeletuk menanggapi kata-kata Rhea.
        “Mungkin gara-gara ketemu di pestanya kak Winny.”
        Sontak Inka menoleh mendengar Ivo angkat bicara. “Lo ke ulang tahunnya kak Winny juga?”
        “Mendadak. Itu juga gara-gara kak Ricky yang ngajak.” Ujar Ivo sedikit merasa bersalah karena belum sempat memberitahukan Inka. Ia merasakan kekecewaan dari temannya yang satu itu. Karena di antara mereka berempat, hanya Inka yang tak datang.
        Mereka akhirnya sampai di kantin dan langsung mencari meja kosong.
        “Tapi lo masih mending, Vo. Nah kak Nicky, tau-tau nongol di depan rumah Najwa ngajak pergi.”
        “Najwa juga datang? Sama kak Nicky?” kata Inka yang masih tetap berdiri meski Ivo dan Rhea sudah ambil posisi duduk di kursi masing-masing. “Kok kalian gak ada yang cerita sih?”
        “Masalahnya setelah itu lo sempet gak masuk dua hari.” Rhea membela.
        “Tapi besoknya lagi kan gue udah masuk.”
        “Keburu lupa.”
        “Ya udah lah. Tolong pesenin mie ayam ya. Gue mau ke toilet dulu.” Inka langsung berbalik tanpa menunggu respon dari dua temannya.
        “Maaf ya, In.” ucap Ivo yang merasa bersalah.
        Di luar kantin, Inka menghentikan langkah. Benar dugaannya. Najwa melintas. Tapi tak ke kantin tempat Ivo dan Rhea berada.

@@@

        Begitu sampai di lokasi tempat yang dijanjikan Nicky, Najwa langsung mencari sosok cowok itu. Begitu Nicky ketemu, ia cepat-cepat menghampiri dan duduk di depan Nicky.
        “Ada apaan lo nyariin gue?”
        Nicky mendongak. “Makan dulu, kali. Emang lo gak laper apa?” protesnya sambil menyodorkan seporsi nasi goreng yang ternyata memang sudah ia pesankan.
        Najwa nyengir. “Perhatian banget sih lo?” Pujinya tapi dengan nada meledek.
        Sontak Nicky jengkel seketika. “Udah untung bisa tinggal makan, gak perlu nunggu dulu.”
        “Iya iya makasih. Ya udah, sambil jawab pertanyaan gue.” Pinta Najwa sesaat sebelum menyuapkan sesendok nasi ke dalam mulutnya.
        Bukannya bicara, Nicky justru menyodorkan secarik kertas. Najwa pun segera membuka lipatannya. Ada sebuah tulisan didalamnya yang sengaja di tulis dengan huruf yang cukup kecil. Najwa harus menajamkan penglihatannya.
       
        Gue mau buktiin kalo yang ngirim ancaman itu bukan Rio apalagi Kelvin. Tapi ada orang lain lagi. Semisal memang benar, dia pasti gak akan ngirim sms lagi karena rahasia sms itu udah terbongkar.

        “Gue dukung niat lo. Tapi gimana caranya?”
        Ternyata Nicky sudah mempersiapkan sedemikian rupa untuk membahas masalah ini agar pembicaraannya tak di dengar orang lain. Terbukti dengan ia memberikan kertas kedua kepada Najwa.
        Nicky melihat sosok Inka di kejauhan. Tepat ketika Najwa menerima kertas itu. Nicky langsung menanamkan sedikit kecurigaan dengan keberadaan Inka. Cewek itu tengah mengawasi Najwa. Dan ketika tau Nicky menyadari keberadaannya, Inka langsung menyingkir.

        Kita pura-pura pacaran!

      Najwa terbelalak membaca tulisan ditangannya. “Gak ada cara lain?” cewek itu mengembalikan kertas yang baru saja dibacanya.
        Nicky masih tak menjawab. Ia juga tak memberitahukan Najwa perihal keberadaan Inka.

        Ini satu-satunya jalan supaya kita tau seberapa nekat pelaku ngawasin lo. Baru tau lo deket sama gue aja, dia udah berani ngancem. Apa lagi kalo tau kita pacaran. Otomatis kita bakal bersikap selayaknya orang pacaran. Gue juga pengen tau, apakah pelaku benar-benar orang luar, atau bisa jadi anak sini juga yang kemungkinan naksir salah satu dari kita.

        Najwa menghela napas untuk menenangkan diri dari kertas ke tiga yang diberikan Nicky. Apa yang baru saja dikatakan Nicky melalui kertas itu sama sekali di luar dugaan dan hampir saja membuatnya gila.
        “Kalo ada yang nanya, ‘kapan ja…”
        Nicky buru-buru mengeluarkan kertas keempat dari dalam saku kemejanya untuk membuat Najwa bungkam.
        Najwa meraih kertas tersebut dengan tatapan tak percaya. “Lo masih punya berapa kertas lagi?”
        “Itu yang terakhir kok.”
        Dengan perasaan lega, Najwa membukanya.

        Gue nembak lo malam minggu kemaren pas kita makan berdua.

      Najwa telah selesai membaca dan bersamaan dengan kedatangan Vicky bersama Nissa. Vicky langsung ambil posisi di samping Nicky.
        “Cieee… yang malam minggu kemaren baru jadian…” Nissa meledek sambil duduk di samping Najwa dan membuat cewek itu meliriknya tajam. Dengan jahilnya Nissa hanya membalas lirikan Najwa dengan kedipan sebelah mata menandakan ia telah mengetahui semua yang direncanakan Nicky.
       
@@@

        Ketika meninggalkan kantin, Najwa melintas ruang guru. Tepat bersamaan ketika Nicky keluar dari sana. Sontak, Najwa yang terkejut langsung menghentikan langkah. Ia sama sekali tak mempercayai apa yang baru saja terjadi padanya. Apa ia benar-benar sudah gila sekarang? Belum sampai lima menit ia meninggalkan Nicky di kantin bersama Vicky dan Nissa. Tapi kini ia telah berhadapan kembali dengan Nicky.
        “Lho, Na?” Nicky pun langsung menyadari keberadaan Najwa.
        Cewek itu benar-benar speechless. Kalau orang yang dihadapannya ini adalah Nicky, lantas siapa yang baru saja ia temui di kantin.
        Nicky panic tiba-tiba karena katerkejutan Najwa. Sesegera mungkin ia membawa Najwa menyingkir dari sana. Sampai akhirnya mereka tiba di lapangan parkir mobil. Suasana di sana memang tak begitu ramai.
        “Lo udah ketemu gue yang di kantin, kan?”
        Najwa yang masih syok hanya mampu mengangguk. “Tolong jangan mempermainkan gue kayak gini. Siapa lo?”
        “Gue Nicky yang asli kok.”
        “Yang nemuin gue…”
        “Kalian di sini?” Ada orang lain di antara mereka.
        Baik Najwa atau pun Nicky sama-sama menoleh ke arah sumber suara. Itu Ricky.
        “Mentang-mentang baru jadian.”
        “Jadi, yang tadi di kantin itu tuh kak Ricky?”
        Ricky hanya menjawab dengan anggukan.
        Najwa melirik Nicky meminta penjelasan. “Kenapa nggak lo sendiri aja sih yang tadi nemuin gue?”
        “Gue ada utang ujian Bahasa Indonesia.” Protes Nicky. “Dan kalo digantiin sama Vicky apalagi Ricky, bisa ketauan. Karena nilai Bahasa Indonesia mereka tuh jauh di bawah gue.” Lanjutnya.

@@@

        Najwa kembali ke kelas, karena sebentar lagi bel masuk akan berdentang. Ia juga sempat sms Ivo tidak bisa menyusulnya karena tiba-tiba ada urusan. Dan selama perjalanan, perasaannya mengatakan ada sesuatu yang aneh. Hampir semua mata menatap kemanapun cewek ini melangkah. Benar-benar ada yang gak beres. Najwa secepat mungkin melangkah ke kelasnya.
        “Lo jadian sama kak Nicky? Sejak kapan? Kok nggak pernah cerita?”
        Benar saja, ketika Najwa baru sampai di kelas, ia sudah dihujani pertanyaan dari teman-temannya yang diwakili oleh Rhea.
        ‘Akh, gila. Baru sepuluh menit gue dikabarin rencana itu, sekarang beritanya udah nyebar cepet banget.’ Keluh Najwa dalam hati.
        “Kenapa nggak jawab? Gue tau, yang lo bilang ada urusan tadi tuh ketemu kak Nicky, kan?”
        Najwa merasakan gelagat mencurigakan dari Inka. ‘kenapa si Inka kesannya gak suka banget denger gue jadian sama Kak Nicky?’ batinnya. “Gue jadian juga baru malam Minggu kemaren kok.”
        “Oh my good?” seru Rhea yang heboh sendiri. Matanya terbelalak takjub mendengar cerita Najwa. “Ceritain donk gimana nembaknya.” Pinta Rhea setengah memaksa. “Duuuhh… pasti romantis banget. Kak Nicky ternyata bisa juga ya.”
        Najwa malah menjadi jijik sendiri mendengar Rhea begitu memuji Nicky. “Boro-boro romantis, cowok galak kayak dia mana bisa romantis sih? Marah-marah iya.”
        “Cukup ya. Gue gak mau denger cerita-cerita kalian lagi.”
        “Ih, kenapa sih? Lagi dapet ya?” ledek Ivo dengan nada manja.
        ‘Inka bener-bener nggak kayak biasa.’ Ujar Najwa dalam hati. ‘Apa dia cemburu?’

@@@

RUMAH TRITWINS…
        Nicky memasukkan motornya ke dalam teras rumah. Sore itu ia pulang bersama Najwa. Nicky mengajak Najwa masuk. Di ruang tengah Ricky, Vicky dan Nissa sudah menunggu.
        “Besok, kalian harus bener-bener terlihat jalan bareng sesering mungkin.” Ujar Ricky ketika Nicky dan Najwa muncul. “Karena kemungkinan, pelaku adalah salah satu siswa Deportivo.” Lanjutnya.
        Najwa duduk di samping Nissa. “Dia sms apaan lagi?”
        Ricky hanya menyodorkan ponselnya.

        Hebat lo, sekarang malah jadian sama Nicky!

      “Tiap kali gue coba telpon setelah dapat pesan itu, nomornya langsung nggak aktiv.” Jelas Ricky sebelum yang lain angkat bicara.
        “Sms terakhir dikirim sekitar jam sepuluh pagi. Itu artinya, pas jam istirahat pertama.” Najwa menatap sekeliling penuh arti.
        Yang lain ikut saling tatap. “Apa ada yang mencurigakan jam segitu?”
        Pertanyaan Nissa sontak membuat Najwa teringat akan Inka. Sikap cewek itu ada yang berbeda dari biasanya. Tak luput, Nicky pun mencurigai orang yang sama. Saat ini semua yang ada di sana saling diam. Tak lama, sebuah pesan masuk ke ponsel Najwa yang masih menggunakan nomor Ricky. Dari Dylan.
       
        Black inject mau latihan voli nih sekarang di lapangan deket rumah Pasya, biasalah ada yang ngidam main voli. Dateng yee semua… ^_^

      “Temen-temen gue di ‘black inject’ lagi ada pertemuan. Bukan acara resmi sih, tapi Cuma sekedar main voli aja. Gue bakal cari target di sana.” kata Najwa perihal sms Dylan yang baru saja di bacanya.
        “Apa Nicky perlu ikut?” saran Nissa.
        “Kagak akh! Banyak yang nggak gue kenal.” Nicky langsung memprotesnya.
        Vicky mendaratkan sebuah jitakkan di kepala Nicky yang membuat cowok itu meringis kesakitan. “Seenggaknya kan ada Dylan sama Aloy yang udah lo kenal.” Omel Vicky.
        “Lagian, ‘black inject’ apaan sih, Na?”
        “Sebenernya sih itu klub motornya kak Vendi, tapi belakangan, kegiatannya gak melulu soal otomotif. Ya, kayak gitu tadi. Suka-suka mereka mau bikin acara apa.” Kata Najwa menjelaskan.
        “Gue fikir klub voli beneran.” Kata Nicky takjub. “Mau gue ajak sparing, ya gak, Rick?” Nicky meminta persetujuan salah satu kembarannya itu.
        “Yoi.” Jawab Ricky singkat.

@@@

LAPANGAN VOLI…
        “Najwa sama siapa, tuh?” Tanya Beni kepada Dylan kala mereka tengah berlari mengelilingi lapangan.
        Dylan menoleh ke arah maksud tujuan Beni. Dilihatnya Najwa baru turun dari boncengan motor Nicky. Mereka masih mengenakan seragam sekolah hari itu. “Oh, itu cowoknya Najwa.”
        “Yang bener?” Beni setengah terkejut. “Bukannya dia sama Rio baru putus sebulan? Cepet banget udah dapet ganti.”
        Dylan hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Beni. Meski ia tau yang sebenarnya antara Rio dan Najwa, tapi Dylan sama sekali tak berniat cerita sedikitpun.
        “Hai, Na.” Sapa seorang cewek yang diketahui bernama Kenny. Ia menyalami dan memeluk Najwa. “Kemana aja? Kangen deh.”
        “Sibuk sekolah doank kok kak.”
        Kenny diam ketika ia menyadari kehadiran Nicky. “Siapa nih? Cowok lo?” ledeknya.
        “Kenalin donk.” Hanya itu yang dikatakan Najwa. Ia sama sekali tak membenarkan atau pun menyangkal pertanyaan Kenny.
        “Nicky.” Ujar cowok itu sambil menyalami Kenny.
        “Kenny.” Balasnya. Kemudian ia langsung kembali ke Najwa. “Ayo donk main.” Ajak Kenny.
        “Nggak akh. Gak bawa baju ganti. Lagian, gue kan bukan anak Priority lagi.” Najwa menolah dengan lembut.
        “Yaelah, masih kaku aja.” Kenny maraih tangan Najwa dan berniat untuk meraihnya. “Gak mau tau, lo harus ikut.”
        Najwa melirik Nicky yang tersenyum sambil sedikit mengangguk dan meminta Najwa untuk melepaskan ranselnya.
        Sesaat, Nicky terhanyut dalam permainan Najwa yang memang tampak lebih terlatih dibanding teman-teman yang lainnya. Dimulai ketika Najwa melakukan serve atas yang memang jarang dikakukan cewek. Belum lagi ketika ia berada di posisi tosser, umpan-umpannya selalu bisa memanjakan pemain yang biasa berposisi sebagai spiker. Terakhir, spike-spike kerasnya pun bisa dengan tajam menghujam lapangan lawan.
‘Dia bisa jadi saingan gue nih. Pantes aja si Ricky meleleh. Ternyata ini alasannya.’ Gumam Nicky dalam hati sambil tersenyum geli membayangkannya.
Saat memblock smash-an Najwa, Dylan salah menjatuhkan kaki hingga membuatnya sedikit terkilir. Cowok itu pun langsung menyingkir. Dan otomatis, pemain yang awalnya berjumlah pas, kini berkurang satu karena Dylan tak mampu meneruskan permainan.
“Gantiin gue donk, Nick.” Pinta Dylan sambil menahan sakit.
“Nggak deh, Dyl.”
“Ram, tarik aja tuh cowok gue.” Najwa berteriak dari sebrang lapangan.
Nicky pun langsung terkejut karena Rama sudah menarik tangannya hingga lapangan dan membuatnya sama sekali tak bisa menolak.

@@@

        Gue pengen ngomong sama kak Ricky donk. Bisa gak kalian tukeran tempat?

      Pesan itu terkirim ke nomor Nicky. Di jam istiharat pertama saat ini, Najwa sudah menyembunyikan diri di perpustakaan. Ia memang sedikit menghindari tempat keramaian. Tak lama, Nicky membalas smsnya.

        Oke. Sms aja ke Ricky mau ketemuan di mana.
     
        Tak butuh waktu lama untuk menunggu kehadiran Ricky. Dan kini, cowok itu sudah duduk di samping Najwa.
        “Kenapa lo nyariin gue?”
        Najwa memperhatikan penampilan Ricky. Benar-benar tak bisa di percaya kalau orang dihadapannya ini bukanlah Nicky. Tapi Najwa tak kehabisan akal untuk bisa memastikan bahwa ia tak sedang dikerjai.
        “Apa yang bisa ngebuktiin kalau lo beneran kak Ricky?” tantangnya.
        Ricky tampak meremehkan permintaan Najwa. Ia pun merogoh saku celananya dan mengeluarkan sekotak kecil permen yang pernah diberikan Najwa beberapa waktu lalu. Ricky menantang Najwa dengan meletakkan kotak pemen itu di tengah-tangah antara dirinya dan Najwa.
        Najwa pun tersenyum lega. “Ada sms dari pelaku?”
        Ricky hanya menggeleng.
        Najwa mendesah kecewa. “Berarti bukan anak-anak ‘black inject’.”
        “Gue juga curiga sama siswa Deportivo. Kemungkinan pelaku termasuk orang yang cukup dekat dengan kita.”
        “Bisa jadi.” Sahut Najwa menyetujui sambil mengeluarkan ponselnya karena ada sebuah pesan yang masuk.

        Kangen kolak biji salak bikinan lo. Tapi bulan puasa masih lama. Bikinin kek. Sabtu ini kan gue ultah. #ngerayudikit

      Najwa tersenyum membaca sms dari Dylan. ‘Ada-ada aja nih anak.’ Ujarnya dalam hati.
        “Sabtu kita jalan yuk, Na.”
        Najwa melirik tajam ke Ricky. Ia tak habis pikir dengan permintaan cowok disebelahnya itu. Cewek ini mengawasi sekitar.
        “Gue kan pacaran sama Nicky.” Najwa memperingatkan dengan suara sepelan mungkin.
        Ricky tersenyum. Dengan manisnya, ia meletakkan salah satu tangannya di sandaran kursi Najwa lalu mendekatkan wajah ke telinga cewek dihadapannya. “Kalian kan Cuma pura-pura. Jadi, perjanjian itu nggak berlaku di gue.”
        Ricky benar. Najwa hanya pura-pura pacaran dengan Nicky. Tapi, ada sesuatu yang mengganjal hatinya. Ivo. Ya, cewek itu memendam rasa ke kepada tritwins yang satu ini. Najwa menyembunyikan senyumnya. Ia tau apa yang bisa ia lakukan untuk menolak permintaan Ricky. Manfaatin permintaan Dylan.
        “Kok diem sih?” Ricky bertanya dengan sangat lembut. Posisi duduknya pun sudah seperti semula. Meski tangannya masih berada di belakang punggung Najwa.
        “Gue udah ada janji, kak.”
        “Sama Nicky?” Ricky berdecak kesal karena Najwa tak langsung menjawab pertanyaannya. “Gue kan bisa nyamar jadi Nicky.” Cowok ini tak kehabisan akal.
        “Dengan atau tanpa lo nyamar pun gue tetep gak mau.” Najwa berusaha menolak sehalus mungkin.
        “Kenapa?”
        “Gue udah ada janji sama orang lain. Dan bukan satu di antara kalian.” Jelas Najwa sambil pergi karena urusannya dengan Ricky sudah selesai.
        Ricky pun tak serta-merta mengejar cewek itu. Ia justru mengirim sebuah sms ke Nicky. Najwa sudah beberapa lama meninggalkan perpustakaan. Tapi Ricky masih berdiam di sana. Di carinya nomor pelaku yang mengiriminya sms berisi ancaman itu. Entah apa yang membuatnya kepikiran untuk menelpon nomor itu. Dari pengalaman yang sudah-sudah. Setiap Najwa bersama tritwins, nomor itu hampir selalu mengirim pesan berupa ancaman.
        Panggilan pertama, nomor tidak aktif. Mungkin pelaku belum mengaktifkan nomor. Ricky belum menyerah, ditelponnya sekali lagi nomor tersebut. Nyambung. Ricky menegakkan badannya. Di saat yang bersamaan terdengar bunyi seperti dering handphone. Cowok ini menajamkan pendengarannya sambil mencari-cari sekitar.
        Suara muncul dari lorong rak buku. Tapi hanya sebentar dan mati sebelum Ricky sempat bangkit. Viola muncul dari lorong yang dicurigai Ricky. Cewek itu keluar perpus sambil sibuk menelpon. Sementara Ricky masih menempelkan ponselnya di telinga karena nada tunggu masih tersambung.
        Nomor itu mengirimi pesan.

        Ngapain pake nelpon? Mau pamer kalo lo lagi pacaran sama Nicky di perpustakaan? Basi cara lo!

@@@

        Nicky yang beratribut seperti Ricky, berjalan menepi dari dalam lapangan basket. Ia memungut ponselnya yang ia geletakkan di atas bangku. Sebuah pesan dari Ricky yang masih menggunakan nomor Najwa.

        Sabtu ini Najwa ada janji sama orang, tapi gue gak tau siapa dan mereka janjian kemana?

        Nicky langsung melakukan panggilan ke nomor tersebut.
        “Biarin aja kalo dia punya janji sama orang lain.” Sambar Nicky begitu ada jawaban dari seberang. “Itu hak dia. Ngapain juga kita harus ngelarang.”
        Ricky keluar dari perpustakaan. “Kalo pelaku bertindak nekat di saat kita gak ada di samping dia, gimana?”
        “Udah deh. Gak akan terjadi apa-apa. Pelaku Cuma berani meneror via sms aja kok.”
        “Oke. Kalo gitu, gue tetep jadi Nicky.”
        “Halo, Rick… Ricky…” beberapa kali Nicky meneriaki nama Ricky karena cowok itu memutuskan panggilan secara sepihak.
        “Kenapa sih, Rick? Kayaknya kesel banget.”
        Nicky tersentak. Viola tiba-tiba telah berada di sampingnya sambil menyodorkan sebuah minuman kaleng.
        “Lo pasti haus, kan?” Ujar Viola sok perhatian.
        “Gak usah sok baik!” protes Nicky sambil meninggalkan cewek itu.
        Viola tak putus asa dengan mengejar Nicky. “Aduh, udah deh. Ikhlasin aja tuh cewek sama Nicky. Lagian, dia gak pantes buat dapetin cinta lo. Mending lo cari cewek lain aja.”
        Nicky berhenti. Ia membalikkan badan untuk menghadap Viola. Ketika ia mendekat, Viola bergerak mundur hingga akhirnya cewek itu tersudutkan di tembok.
        “Cari cewek lain, ya?” Nicky mengulangi kata-kata Viola. “Hmm… Apa lo mau, jadi cewek gue?” Nicky menggoda Viola dengan bicara sambil mendekatkan wajahnya ke telinga Viola. “Kesempatan nggak datang dua kali.” Nicky berucap dengan sangat pelan dan lembut.
        Pipi Viola benar-benar merah padam. Sama sekali tak terbanyangkan Ricky mengatakan hal yang selama ini ia impikan dari cowok ini.
        Belum sempat Viola menjawab, bel telah berdentang. Dan Nicky langsung pergi meninggalkan Viola begitu saja.

@@@

        Sabtu itu sekitar jam 9 pagi, Najwa sudah berkutat di dapur. Tak lama, Zaquan muncul dan menghampirinya. Cowok itu bersandar di meja tempat Najwa membuat sebuah adonan.
        “Masih aktif di ‘black inject’ lo!” kata Zaquan sambil melirik adonan di tangan Najwa dengan tatapan meremehkan.
        Sesaat, Najwa berhenti dari aktivitasnya. Lalu tanpa mempedulikan perkataan adiknya, ia kembali mengolah adonan tersebut.
        Zaquan siap kembali buka mulut, namun suara bel menghalanginya. Ia bergegas pergi keluar.
        “Masih pagi udah sibuk aja di dapur. Kayaknya mau ada acara nih.”
        Najwa mendongak. Cowok itu sudah berdiri di seberang mejanya.
        “Ayo tebak, gue Nicky, Ricky apa Vicky?” cowok itu menantang.
        Najwa yang semula tengah membentuk adonan menjadi bulatan pun diam sejenak dan di buat berfikir keras oleh orang di seberangnya ini. Nampaknya cowok itu memang sudah mempersiapkan diri untuk sedikit mengetes Najwa. Terlihat bahwa ia sama sekali tak mengenakan benda-benda yang mengidentitaskan dirinya.
Tapi cewek itu tak kehabisan akal. Ia menekan beberapa tombol di ponselnya tepat ketika cowok itu menuju wastafel untuk mencuci tangan. Najwa menunggu sambil melanjutkan aktifitasnya yang sempat terhenti. Tak lama terdengar sebuah dering ponsel. Najwa tersenyum penuh kemenangan.
“Nicky… Nicky…” Cewek ini hanya geleng-geleng kepala.
“Kenapa, Nis?” Tapi cowok itu malah menjauh dari dapur.
Najwa yang tercengang, sontak langsung melihat ponselnya yang masih melakukan panggilan ke nomor Nicky lalu menekan tombol loadspeaker.
“Kenapa, Na? Si Ricky ngisengin lo, ya?”

@@@

Vicky keluar dari dalam rumah. Di sana ia mendapati Nicky tengah mencuci motor. Dari raut wajahnya, Nicky sama sekali tak bisa menyembunyikan kegusaran hatinya. Dan itu bisa langsung ditebak oleh kembarannya yang satu ini.
        Vicky mendekati Nicky, kemudian memungut ujung selang yang masih mengalirkan air. Di siramnya hampir seluruh badan motor Nicky.
        “Kenapa, lo?”
        Nicky mendongak dan berdiri. Ia mengusap-usap bagian motor yang disiram Vicky menggunakan kanebo untuk menghilangkan sisa busa sabun yang menempel. Tapi cowok ini tak menjawab pertanyaan Vicky.
        Vicky mengedarkan pandangan. “Si Ricky kemana? Pagi-pagi udah ngilang aja.” Tanya Vicky lagi.
        “Ke rumah Najwa.” Jawab Nicky datar.
        “Apa? Ke rumah Najwa?” Vicky mengulangi perkataan Nicky. “Gue gak salah denger?” dilihatnya, mobil Ricky masih bertengger di tempat biasa. “Dia naik apa? Mobilnya masih ada tuh.”
        Nicky hanya mengangkat bahu.
        “Lo berdua ada apaan lagi, sih?” Vicky mulai mencium gelagat mencurigakan.
        Nicky berbalik untuk menutup keran air. “Gak ada apa-apa.” Ujarnya ketika kembali. Ia menyambar selang yang ada di tangan Vicky lalu menggulungnya.
        ‘Pasti ada sesuatu. Gak mungkin nggak.’ Ucap Vicky dalam hati. Kemudian ia meninggalkan Nicky yang kali ini tengah mengeringkan motornya.

@@@

Tidak ada komentar:

Posting Komentar